02 September 2017

Generasi Milenial; Generasi yang Gemar Bernostalgia

[Jurnal #3 yang aduhai]

Dua postingan saya terdahulu membicarakan hal-hal yang terjadi di kehidupan masa kecil saya. Tepatnya nostalgia saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, mengapa saya senang bernostalgia? Hal-hal nostalgia seringkali menyeruak dalam ingatan sebab, salah satunya, merasa bahwa situasi di sekitar saya saat ini sungguh tidak lebih bersahabat dibanding di masa silam.

Saya lantas mengenang dan menghayati kembali perasaan-perasaan yang muncul di masa-masa tersebut. Mungkin tampaknya bukan saya saja yang merasa demikian. Banyak orang yang merasakan nostalgia pada masa-masa itu. Tak heran jika mereka yang bernostalgia berpadu menjadi satu, sama-sama mengenang kebahagiaan di masa lampau, dan merasa bangga sebab lahir dan hidup di masa itu. Mereka saat ini berpadu dalam sebuah komunitas di media sosoial dan sama-sama membagikan kenangan masa silam.

Tentu saja, tak ada yang salah dengan sebuah nostalgia. Saya pun mendapatkan kebahagiaan saat mengenang hal-hal manis yang terjadi di tahun-tahun 90-an. Hal yang kemudian menjadi menarik adalah kerinduan atas sebuah zaman tersebut seakan muncul berbarengan. Hal yang kemudian saya pertanyakan pada diri saya adalah mengapa kita bernostalgia? Mengapa generasi milenial senang mengenang masa gemilangnya yakni era 90-an?


Gambar dari sini
***
Dalam penjelasannya mengenai nostalgia di laman TED-Ed,  Clay Routledge menerangkan bahwa nostalgia berasal dari bahasa Yunani "Nostos" yang berarti "pulang kembali ke rumah" dan "algos" yang berarti "sakit". Hal ini berkaitan dengan muasal ditemukannya istilah nostalgia oleh seseorang  bernama Johannes Hofer pada tahun 1688. Saat itu, ia yang merupakan tenaga medis, merawat para tentara Swiss yang cidera di Perancis.  Ia menemukan bahwa para tentara tersebut sering mengalami keinginan kuat untuk kembali ke tanah kelahiran sebab telah terpisah dari negaranya dalam waktu yang sangat lama.

Pada awal kemunculannya gejala ini dianggap fatal sebab dalam beberapa kasus telah menyebabkan kematian. Seiring waktu, terungkaplah bahwa nostalgia bukan sebuah penyakit. Pengertiannya berkembang dari sebuah kerinduan terhadap tanah kelahiran ke kerinduan atas masa silam. Dengan demikian, nostalgia diketahui sebagai perasaan sentimental saat seseorang merindukan afeksi atau perasaan tertentu saat mengingat satu periode pada masa lalu.

Seorang Psikolog, Dr. Wildschut, dilansir dari laman The Debrief, menyatakan bahwa seseorang merasakan nostalgia karena beberapa alasan. Beberapa di antaranya yakni untuk mengatasi kesulitan-kesulitan psikologis seperti perasaan sepi dan perasaan tak memiliki arti hidup. Artinya, nostalgia  menjadi respons kekebalan psikologis saat seseorang mengalami sedikit benturan dalam perjalanan hidup. Saat ini, nostalgia seakan hadir secara serentak dan dialami oleh banyak orang terutama oleh generasi milenial.

Gambar dari sini
Generasi Nostalgia

Generasi milenial lahir dari rentang tahun 1980-2000. Generasi ini sering pula disebut sebagai generasi Y, meneruskan penamaan atas generasi sebelumnya yakni generasi X. Generasi milenial mencapai masa terbaiknya di tahun 90-an. Berdasarkan pendapat Dr. Jean Twenge, seorang profesor psikologi dari  San Diego State University di laman Nationalpost.com diketahui bahwa generasi yang hidup di tahun 90-an adalah mereka yang hidup di dekade terakhir yang baik -masa terakhir ekonomi berkembang dengan cukup baik dan masa terakhir tiadanya ketakutan terhadap ancaman-ancaman seperti terorisme. Secara umum dapat dikatakan bahwa generasi milenial tumbuh di saat keadaan dunia tengah berada dalam kondisi cukup baik dan kondusif di tahun-tahun awal 90-an.

Saat generasi milenial beranjak dewasa, ia mendapati bahwa dunia di sekitarnya saat ini tidak lagi menyuguhkan kenyamanan seperti saat ia kanak-kanak atua remaja. Dunia telah berubah terlalu cepat tanpa bisa ia kendalikan. Bahkan, saat memasuki awal tahun 2000-an, generasi ini dihadapkan pada krisis ekonomi global yang kemudian mengubah kehidupan dunia dengan cukup signifikan. Perkembangan teknologi yang terlalu cepat pun mengakibatkan generasi ini mesti banyak berpacu dengan waktu. Generasi ini kemudian tumbuh dalam roda hidup yang berputar serba cepat dan menginginkan sesuatu yang kelewat instan. Di tengah kondisi depresif tersebut, nostalgia seakan menjadi penawar yang ampuh untuk sejenak menengok masa silam yang hangat, nyaman, dan tenteram.


Hal serupa barangkali dialami pula oleh setiap generasi. Generasi Baby Boomers dengan era 60-an, generasi X dengan era 80-an.  Namun, tentu saja terdapat beberapa perbedaan mengenai nostalgia-nostalgia tersebut. Teknologi, barangkali, menjadi salah satu pembeda nostalgia generasi ini. Meskipun di satu sisi teknologi merupakan penyebab generasi milenial bernostalgia, teknologi pun menyuguhkan penawar berupa nostalgia.

Saat generasi ini merasakan kesenjangan yang tampak dalam kehidupannya, ia dapat dengan mudah mengakses hal-hal yang berhubungan dengan keindahan masa silam lewat teknologi bernama internet. Ia pun bahkan dapat membagikan kegelisahannya itu di instagram, facebook, dan media sosial lainnya sehingga perlahan terbentuklah kesadaran berjamaah dalam wadah komunitas-komunitas media sosial. Keberadaan teknologi ini agaknya yang menjadikan generasi milenial dinilai sebagai generasi yang paling bernostalgia dibandingkan generasi sebelumnya.

Hal tersebut, bagi saya, tidaklah begitu buruk. Nostalgia, seperti disarikan oleh Tom Stafford di laman BBC, tidaklah mengubur seseorang dalam kenangan masa lalu, melainkan membangkitkan semangatnya. Nostalgia membantu seseorang untuk menakar ulang konteks diri, merancang tujuan dan hari esok dengan pandangan yang sarat akan harapan. Nostalgia pun, di lain pihak, memicu kreativitas generasi milenial ini. Komunitas yang terbentuk karena kesamaan ingatan atas masa silam kemudian berkembang menjadi komunitas kreatif. Generasi milenial yang kini tengah berada di tahap dewasa mampu memandang masa depannya dengan lebih optimis dan percaya diri.

Di sisi paling lain, hal-hal terkait 90-an kembali dimunculkan dengan perwajahan yang baru, dengan kreativitas yang lebih segar. Pada titik ini, saya menemukan bahwa nostalgia kini bukan sekadar menjadi penawar atas "guncangan" zaman yang sedang dihadapi bersama-sama oleh generasi milenial melainkan sebuah target pasar yang menjanjikan.

***

Saat saya mengetik kalimat terakhir, saya kemudian menemukan kegelisahan lain. Bagaimana sebuah perasaan sentimental seperti nostalgia kemudian tampak menggiurkan bagi pasar? Hal-hal penuh nostalgia yang sedang dirasakan generasi milenial saat ini (termasuk saya) barangkali sengaja disajikan? Demi menjawab keg
elisahan itu, ada baiknya saya menulis postingan khusus mengenai nostalgia dan pasar.

Sampai jumpa di pasar, eh maksud saya, di postingan selanjutnya!

0 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan! Saya Nurul Maria Sisilia. Seorang pengajar, penulis, dan pekerja sosial. Saya senang menulis hal menarik yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Mari berbincang!

Terjemahkan (Translate)

Rekan

Diberdayakan oleh Blogger.