05 September 2017

Nostalgia dan Sebuah Pasar

[Jurnal #4 , catatan dari seorang penyuka budaya populer]

Pada postingan sebelumnya, saya dengan (agak) ilmiah menjabarkan mengenai nostalgia dan beragam alasan generasi milenial gemar bernostalgia. Pada akhirnya, saya masih dihinggapi kegelisahan. Saya merasa bahwa nostalgia para generasi milenial adalah lahan subur yang menjanjikan. Mengapa bisa demikian? Maksud saya, mengapa nostalgia sangat ampuh menggaet hati para milenial di dunia pemasaran?
Oh iya, saya tidak sedang menulis sebagai seorang pemerhati bisnis atau ekonomi. Saya menulis sebagai seorang pengamat budaya populer saja :).

Iklan LINE dengan tokoh Rangga dan Cinta. Gambar dari sini

Simaklah beberapa amatan saya. Pada tahun 2014, iklan fitur teranyar Line yakni Find Alumni mendadak tenar di kalangan warganet. Kehadiran tokoh Rangga dan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta dalam iklan itu menyedot perhatian penonton. Penonton dibuat mengenang kembali kisah kasih Rangga dan Cinta dalam film yang tayang tahun 2002 atau sekira dua belas tahun lalu.  Beberapa saat setelahnya, sekuel Ada Apa Dengan Cinta 2 pun tayang dengan jumlah penonton yang terhitung banyak.

Kemudian, tahun 2016, permainan berbasis android yakni Pokemonn Go mendapat sorotan luar biasa.  Tentu saja, sebelumnya, para pengguna seakan diingatkan kepada tayangan dan permainan Pokemon yang sempat tenar di era 90-an. Pokemon Go kemudian menjadi salah satu permainan yang digandrungi oleh semua kalangan sepanjang tahun. Di seluruh dunia.

Dua contoh yang saya ambil di lingkup lokal dan global tadi sebenarnya berangkat dari hal yang sama: nostalgia. Penonton Ada Apa Dengan Cinta atau pemain permainan Pokemon dibuat mengenang kepopuleran film dan game tersebut pada saat mereka kanak-kanak atau remaja. Secara psikologis, nostalgia merupakan mekanisme pertahanan diri yang positif atas hal-hal buruk yang menimpa kehidupan seseorang seperti kesedihan atau kesepian.

Nostalgia membuat seseorang mengingat kembali hal-hal indah yang telah dilewati di masa silam. Tentu saja, mengenang sejumlah kejadian manis di masa lalu akan membuat seseorang tersenyum, menepis kebosanan dan menghilangkan kecemasan-kecemasan. Perasaan-perasaan positif seperti inilah yang diinginkan oleh dunia pemasaran sebab mampu menarik perhatian banyak orang terutama generasi milenial di era modern yang serba gegas dan hiruk-pikuk.

Simaklah bahasan Lauren Friedman di laman Forbes.com Menurutnya, menghidupkan kembali memori-memori positif dari masa lalu beserta hal-hal menariknya adalah sesuatu yang membahagiakan di tengah aneka rutinitas yang padat, ragam tanggung jawab yang berat, dan kerumitan hidup lainnya. Saat seseorang senang atau tertarik pada sesuatu, tentu saja ia akan lebih senang bertindak lebih untuk mencapai sesuatu itu. Di titik ini, artinya, brand akan berhasil menyentuh pemirsanya di tingkat yang lebih emosional (dan sentimental) saat meliibatkan nostalgia. Nostalgia akhirnya dapat mendorong seseorang dan orang lain untuk menikmati sebuah produk karena merasa terhubung dengan kenangan masa lampau yang mengesankan itu.

Para pemain Pokemon Go, misal, terdorong untuk bermain karena mereka bisa mengenang kembali saat-saat bahagia di tahun 90-an, saat permainan tersebut hadir di masa kanak-kanak mereka. Pun dengan film AADC 2 atau fitur Find alumni dari Line. Mereka dapat menonton film atau menggunakan fitur teranyar Line tersebut sambil mengenang sosok Rangga dan Cinta yang hadir di masa remaja mereka.

Pokemon Go (2016). Dokumentasi dari sini

Lantas, apakah dengan menghadirkan sesuatu dari masa silam di masa kini dapat sepenuhnya menggaet para milenial pada sebuah produk? Saya rasa tidak semudah itu. Apalah artinya kehadiran masa silam tanpa memberi kesan yang lebih berarti di masa kini. Artinya, mesti ada keterkaitan, relevansi, atau konteks yang tepat antara masa lampau dan masa kini. Jika tidak, semua perasaan nostalgia tersebut hanya menyuguhkan kekosongan. Dalam hal ini, masih kata Lauren Friedman, produk yang menggunakan nostalgia sebagai sebuah strategi mestilah mempertimbangkan kebaruan atau sesuatu yang tengah berkembang di masa kini. Intinya, membuat sebuah kaitan yang emosional menggunakan nostalgia sambil tetap menawarkan hal baru. Lihatlah para pemain Pokemon Go. Mereka tentulah bernostalgia dengan permainan era 90-an ini namun mereka pun terdorong atas sebuah kebaruan yakni permainan dengan augmented reality. Perpaduan keduanya membuat permainan ini laris manis di pasaran.

Hal serupa tampaknya dapat kita temukan pula dari kemunculan Rangga dan Cinta. Selain bernostalgia, pengguna aplikasi Line terdorong oleh inovasi fitur Find Alumni. Saat menonton film AADC 2, barangkali, mereka pun terdorong oleh kebaruan yakni asyiknya bepergian dengan travelling, menikmati tempat-tempat seni, atau menyimak puisi-puisi Aan Mansyur.

Tren budaya populer seperti busana, tayangan, permainan, dan musik seakan berulang atau sengaja dibuat berulang  sekira setiap sepuluh atau dua puluh tahun. Nyatanya, nostalgia semacam itu dinilai sangat ampuh memikat pasar, yakni generasi milenial. Selain alasan bahwa nostalgia mampu menepis aneka perasaan depresif di era modern, perlu digarisbawahi bahwa generasi milenial adalah pengguna media digital yang aktif dan pengguna teknologi yang adaptif. Generasi ini, seperti dituturkan Tanya Dua dalam laman Digiday.com, generasi perdana yang hidup terhubung dengan dunia daring secara instan dan juga konstan. Generasi yang dilimpahi informasi dari berbagai penjuru. Kesederhanaan yang generasi ini idamkan dari masa lalu mereka dapatkan dari sebuah inovasi bernama teknologi. Selanjutnya, mari kita simak sekitar. Bagaimana sensasi kembalinya Warkop DKI dalam Warkop DKI Reborn atau Power Rangers The Movie membangkitkan nostalgia generasi milenial?

Sebentar. Nostalgia yang lebih gegas kini terdapat dalam fitur on this day di Facebook atau aplikasi Timehop. Apakah menurutmu, mereka lahir dari kenyataan bahwa generasi milenial kini semakin senang mengenang?

Gambar dari sini
Continue Reading...

02 September 2017

Generasi Milenial; Generasi yang Gemar Bernostalgia

[Jurnal #3 yang aduhai]

Dua postingan saya terdahulu membicarakan hal-hal yang terjadi di kehidupan masa kecil saya. Tepatnya nostalgia saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, mengapa saya senang bernostalgia? Hal-hal nostalgia seringkali menyeruak dalam ingatan sebab, salah satunya, merasa bahwa situasi di sekitar saya saat ini sungguh tidak lebih bersahabat dibanding di masa silam.

Saya lantas mengenang dan menghayati kembali perasaan-perasaan yang muncul di masa-masa tersebut. Mungkin tampaknya bukan saya saja yang merasa demikian. Banyak orang yang merasakan nostalgia pada masa-masa itu. Tak heran jika mereka yang bernostalgia berpadu menjadi satu, sama-sama mengenang kebahagiaan di masa lampau, dan merasa bangga sebab lahir dan hidup di masa itu. Mereka saat ini berpadu dalam sebuah komunitas di media sosoial dan sama-sama membagikan kenangan masa silam.

Tentu saja, tak ada yang salah dengan sebuah nostalgia. Saya pun mendapatkan kebahagiaan saat mengenang hal-hal manis yang terjadi di tahun-tahun 90-an. Hal yang kemudian menjadi menarik adalah kerinduan atas sebuah zaman tersebut seakan muncul berbarengan. Hal yang kemudian saya pertanyakan pada diri saya adalah mengapa kita bernostalgia? Mengapa generasi milenial senang mengenang masa gemilangnya yakni era 90-an?


Gambar dari sini
***
Dalam penjelasannya mengenai nostalgia di laman TED-Ed,  Clay Routledge menerangkan bahwa nostalgia berasal dari bahasa Yunani "Nostos" yang berarti "pulang kembali ke rumah" dan "algos" yang berarti "sakit". Hal ini berkaitan dengan muasal ditemukannya istilah nostalgia oleh seseorang  bernama Johannes Hofer pada tahun 1688. Saat itu, ia yang merupakan tenaga medis, merawat para tentara Swiss yang cidera di Perancis.  Ia menemukan bahwa para tentara tersebut sering mengalami keinginan kuat untuk kembali ke tanah kelahiran sebab telah terpisah dari negaranya dalam waktu yang sangat lama.

Pada awal kemunculannya gejala ini dianggap fatal sebab dalam beberapa kasus telah menyebabkan kematian. Seiring waktu, terungkaplah bahwa nostalgia bukan sebuah penyakit. Pengertiannya berkembang dari sebuah kerinduan terhadap tanah kelahiran ke kerinduan atas masa silam. Dengan demikian, nostalgia diketahui sebagai perasaan sentimental saat seseorang merindukan afeksi atau perasaan tertentu saat mengingat satu periode pada masa lalu.

Seorang Psikolog, Dr. Wildschut, dilansir dari laman The Debrief, menyatakan bahwa seseorang merasakan nostalgia karena beberapa alasan. Beberapa di antaranya yakni untuk mengatasi kesulitan-kesulitan psikologis seperti perasaan sepi dan perasaan tak memiliki arti hidup. Artinya, nostalgia  menjadi respons kekebalan psikologis saat seseorang mengalami sedikit benturan dalam perjalanan hidup. Saat ini, nostalgia seakan hadir secara serentak dan dialami oleh banyak orang terutama oleh generasi milenial.

Gambar dari sini
Generasi Nostalgia

Generasi milenial lahir dari rentang tahun 1980-2000. Generasi ini sering pula disebut sebagai generasi Y, meneruskan penamaan atas generasi sebelumnya yakni generasi X. Generasi milenial mencapai masa terbaiknya di tahun 90-an. Berdasarkan pendapat Dr. Jean Twenge, seorang profesor psikologi dari  San Diego State University di laman Nationalpost.com diketahui bahwa generasi yang hidup di tahun 90-an adalah mereka yang hidup di dekade terakhir yang baik -masa terakhir ekonomi berkembang dengan cukup baik dan masa terakhir tiadanya ketakutan terhadap ancaman-ancaman seperti terorisme. Secara umum dapat dikatakan bahwa generasi milenial tumbuh di saat keadaan dunia tengah berada dalam kondisi cukup baik dan kondusif di tahun-tahun awal 90-an.

Saat generasi milenial beranjak dewasa, ia mendapati bahwa dunia di sekitarnya saat ini tidak lagi menyuguhkan kenyamanan seperti saat ia kanak-kanak atua remaja. Dunia telah berubah terlalu cepat tanpa bisa ia kendalikan. Bahkan, saat memasuki awal tahun 2000-an, generasi ini dihadapkan pada krisis ekonomi global yang kemudian mengubah kehidupan dunia dengan cukup signifikan. Perkembangan teknologi yang terlalu cepat pun mengakibatkan generasi ini mesti banyak berpacu dengan waktu. Generasi ini kemudian tumbuh dalam roda hidup yang berputar serba cepat dan menginginkan sesuatu yang kelewat instan. Di tengah kondisi depresif tersebut, nostalgia seakan menjadi penawar yang ampuh untuk sejenak menengok masa silam yang hangat, nyaman, dan tenteram.


Hal serupa barangkali dialami pula oleh setiap generasi. Generasi Baby Boomers dengan era 60-an, generasi X dengan era 80-an.  Namun, tentu saja terdapat beberapa perbedaan mengenai nostalgia-nostalgia tersebut. Teknologi, barangkali, menjadi salah satu pembeda nostalgia generasi ini. Meskipun di satu sisi teknologi merupakan penyebab generasi milenial bernostalgia, teknologi pun menyuguhkan penawar berupa nostalgia.

Saat generasi ini merasakan kesenjangan yang tampak dalam kehidupannya, ia dapat dengan mudah mengakses hal-hal yang berhubungan dengan keindahan masa silam lewat teknologi bernama internet. Ia pun bahkan dapat membagikan kegelisahannya itu di instagram, facebook, dan media sosial lainnya sehingga perlahan terbentuklah kesadaran berjamaah dalam wadah komunitas-komunitas media sosial. Keberadaan teknologi ini agaknya yang menjadikan generasi milenial dinilai sebagai generasi yang paling bernostalgia dibandingkan generasi sebelumnya.

Hal tersebut, bagi saya, tidaklah begitu buruk. Nostalgia, seperti disarikan oleh Tom Stafford di laman BBC, tidaklah mengubur seseorang dalam kenangan masa lalu, melainkan membangkitkan semangatnya. Nostalgia membantu seseorang untuk menakar ulang konteks diri, merancang tujuan dan hari esok dengan pandangan yang sarat akan harapan. Nostalgia pun, di lain pihak, memicu kreativitas generasi milenial ini. Komunitas yang terbentuk karena kesamaan ingatan atas masa silam kemudian berkembang menjadi komunitas kreatif. Generasi milenial yang kini tengah berada di tahap dewasa mampu memandang masa depannya dengan lebih optimis dan percaya diri.

Di sisi paling lain, hal-hal terkait 90-an kembali dimunculkan dengan perwajahan yang baru, dengan kreativitas yang lebih segar. Pada titik ini, saya menemukan bahwa nostalgia kini bukan sekadar menjadi penawar atas "guncangan" zaman yang sedang dihadapi bersama-sama oleh generasi milenial melainkan sebuah target pasar yang menjanjikan.

***

Saat saya mengetik kalimat terakhir, saya kemudian menemukan kegelisahan lain. Bagaimana sebuah perasaan sentimental seperti nostalgia kemudian tampak menggiurkan bagi pasar? Hal-hal penuh nostalgia yang sedang dirasakan generasi milenial saat ini (termasuk saya) barangkali sengaja disajikan? Demi menjawab keg
elisahan itu, ada baiknya saya menulis postingan khusus mengenai nostalgia dan pasar.

Sampai jumpa di pasar, eh maksud saya, di postingan selanjutnya!

Continue Reading...

30 Agustus 2017

Ranger Biru dan Sebuah Nostalgia Masa Kecil

[Jurnal ke #2 ]

"Pemeran ranger biru dalam serial Power Rangers terbaru adalah orang Indonesia!"
Begitulah kira-kira reaksi takjub saya saat tahu salah satu pemeran  Ninja Steel itu berasal dari Indonesia. Namanya Peter Sudarso. Saudaranya pun, Yoshi Sudarso, berperan sebagai ranger biru dalam serial power rangers yang lain, Power Rangers Dino Charge. Duo Sudarso mulai viral di media sosial terutama saat menjadi salah satu tamu dalam temu komunitas Diaspora Indonesia, sebuah komunitas warga Indonesia yang tinggal dan besar di negara lain. Kemunculan Peter dan Yoshi, ranger biru, dan power rangers kembali mengingatkan saya pada kenangan masa kecil saya bertahun-tahun silam. Sesuatu yang menggelitik memori saya seperti ingin kembali masuk dan menikmati masa-masa itu.
*** 
Seorang kawan membuatkan saya gambar ini! :D
Sebutlah ia, Blake Anthony Foster. Ia adalah pemeran ranger biru dalam serial pahlawan super, Power Rangers Turbo. Film kegemaran anak-anak yang berbahagia hidup dan berkembang di tahun 90-an ini sebenarnya telah diputar tahun 1997 di negara asalnya, Amerika. Namun, baru bisa disaksikan penontonnya di Indonesia tiga tahun kemudian. Saya adalah salah satu anak kecil yang turut berbahagia dengan adanya tayangan itu di Indonesia. 

Blake foster memerankan tokoh ranger biru bernama Justin Stewart. Meneruskan perjuangan Tommy dan kawan-kawan di series terdahulu yakni Power Rangers Zeo dan Mighty Morphin Power Rangers, Justin dan kawan-kawan tergabung dalam Power Rangers Turbo. Justin  adalah ranger paling muda di antara empat rekan satu timnya. Usianya baru dua belas tahun namun ia mampu melengkapi kekuatan pasukan turbo menghadapi lawan dengan sebuah senjata bernama Turbo Hand Blaster. 

Sebagai seorang siswa sekolah, Justin digambarkan tak gentar menghadapi perlakuan beberapa rekannya yang kerap melakukan perundungan (bullying). Isu perundungan terutama pada anak-anak menjadi isu yang cukup penting di negara Super Power itu. Tak heran jika isu itu pun dimunculkan dalam serial anak seperti Power Rangers Turbo lewat tokoh Justin. Keberanian tokoh Justin menghadapi hal-hal sulit dan tak menyenangkan itulah yang membuat saya menjadi salah satu penggemar beratnya kala itu. Barangkali hal ini sama dengan hal yang kini dialami anak-anak generasi Z. Mereka mengidolakan personil boy band, pemeran drama dari negeri ginseng, atau pemain sinetron tentang kebut-kebutan wal cinta-cintaan. Bedanya, saya mengidolakan tokoh fiksi yang bisa berubah menjadi manusia berkekuatan super.


Menjadi penggemar (fans) Blake Foster alias Justin Stewart ketika itu saya rasa sangatlah menyenangkan tapi juga memalukan. Banyak hal yang saya rasa sangatlah konyol jika diingat kembali. Tapi tak sedikit pula pelajaran positif dari hal tersebut. Menonton Power Rangers Turbo selepas magrib, misalnya, adalah sebuah keharusan. Ritual yang tak boleh diganggu gugat oleh sesiapa bahkan oleh kakek saya yang sangat galak. Satu hal saja yang paling dicari: Justin! Berpakaian serba biru pun menjadi sebuah ciri sebab saya berusaha meniru sang idola. Sedemikian jatuh cintanya saya pada tokoh Justin hingga saya punya satu buku khusus dan rahasia tentang perasaan saya tiap kali "bertemu" Justin di layar kaca. Saya simpan rapat-rapat buku itu di pojok paling bawah lemari pakaian sebab merasa malu jika ada orang lain yang membaca. Namun malang tak dapat dihadang. Ibu yang terlampau rajin membereskan lemari saya akhirnya menemukan (dan membaca semua isi) buku "tabungan perasaan" saya itu. Saya membayangkan ibu saya terpingkal saat membaca buku itu. Buku bekas berisi curahan perasaan bocah sekolah dasar yang dipenuhi gambar dan catatan tentang Justin.


Gambar diambil dari sini

Jauh sebelum ibu akhirnya menemukan buku bertuah saya di dasar lemari, saya menuliskan angan yang besar untuk mengunjungi negeri Paman Sam. Di sebuah adegan Power Rangers, kamera menyorot jelas sebuah bendera di depan gedung sekolah Justin. Rasa penasaran saya muncul. Saya lantas membuka buku IPS dan menemukan bahwa bendera itu adalah bendera Amerika.  Di baris selanjutnya mengenai Amerika tertulis bahwa bahasa kebangsaan negara itu adalah bahasa Inggris. Dari sinilah saya mulai bertekad untuk belajar bahasa Inggris dengan tekun. Alasan terbesarnya tentu saja demi bertemu dan berkomunikasi dengan sang pujaan. Saya pun mulai mencoba menulis beberapa catatan perasaan saya beserta contoh percakapan yang barangkali bisa saya sampaikan jika bertemu ranger biru dalam bahasa Inggris. Namun jangan membayangkan bahasa Inggris yang saya pakai adalah bahasa Inggis yang baik. Sungguh awut-awutan tak karuan. Tetapi demi cinta, saya pantang menyerah untuk belajar.


Pada masa itu, sebenarnya, bahasa Inggris baru dipelajari di SD kelas 6. Sementara itu, saya sudah lebih dahulu menyukai bahasa asing itu bahkan sebelum resmi dipelajari di sekolah. Kamus yang saya temukan di rak buku di rumah adalah sarana belajar pertama saya. Akibatnya, saya termasuk siswa yang terhitung cepat menguasai pelajaran "baru" itu di sekolah. Saya kemudian menjadi siswa yang menggemari pelajaran itu hingga bertahun-tahun selanjutnya. Inilah nilai positif yang saya dapat. Saya kemudian merasa bersyukur sebab pernah mengidolakan sang ranger biru dengan sangat keras kepala. 

Di akhir masa sekolah dasar itu pulalah saya merasakan patah hati yang tak tergambarkan. Tepatnya saat serial kesayangan saya itu mencapai episode terakhirnya. Sebenarnya, serial tersebut masih berlanjut di Power Rangers in Space. Namun yang menjadi persoalan adalah tidak hadirnya sosok Justin di serial lanjutan tersebut. Sosok Justin memang sempat muncul namun di satu episode saja. Maka berakhirlah sudah kisah saya dengan sang tokoh fiktif, Justin Stewart.

***

Kisah-kisah menggelikan ini tampaknya tak akan saya alami jika saya terlahir menjadi anak yang lahir selepas era 90-an. Tak bisa dimungkiri bahwa tayangan ramah anak seperti Power Rangers di era 90-an sangatlah melimpah. Saya merasakan betul  bahwa kehidupan saya yang berbahagia saat ini banyak dipengaruhi  oleh hal-hal yang saya dapat di masa kecil saya itu. Saya kemudian rindu masa itu. Masa saat hari Minggu dapat diisi dengan menonton acara-acara anak sepanjang hari, tayangan anak yang beragam di hari lain selain hari Minggu, kegembiraan menyanyikan lagu anak, dan kebahagiaan berlangganan majalah anak dengan mudah. 

Sebentar. Mengapa tulisan ini berakhir menjadi sangat melankolis dan penuh nostalgia? Perihal nostalgia ini agaknya harus saya tulis khusus di postingan saya selanjutnya. 

Sampai jumpa di postingan selanjutnya mengenai nostalgia.
Mountain blaster, turbo power!



Continue Reading...

28 Agustus 2017

Mengapa Suka (Bisa) Menggambar?


Sejujurnya, saat engkau bertanya "Mengapa  bisa menggambar?" saya tak punya jawaban yang paling tepat sebab saya pun tak persis paham mengapa bisa dikatakan pandai menggambar. Saya hanya punya sekumpulan ingatan mengenai saya dan aktivitas menggambar sedari kecil. Mainan kesayangan saya saat bocah adalah aneka kertas dan pensil. Lalu, saya tak pernah mengikuti kursus menggambar secara khusus. Hal-hal terkait menggambar saya dapat dari sekitar saja. Saya pun bukan seseorang yang tumbuh di lingkungan pendidikan formal terkait itu. Saya hanya punya kedekatan yang lekat dengan aktivitas itu bahkan sampai sekarang. 
Barangkali semua saya mulai dari kisah masa kecil ini. 



***
Jika kakek pulang berdagang di pasar pada siang hari, kakek menyempatkan diri mengaso di sudut rumah dekat jendela. Di atas meja terletak satu mug berisi teh pahit kegemarannya. Di pangkuannya, kakek selalu akrab dengan dua benda ini: kertas dan pensil. Kala itu saya masih bocah dan penasaran dengan kegiatan kakek. Kakek sedang menggambar tokoh bernama Bahtera Rama, katanya. Di lain kesempatan, kakek bilang sedang menggambar trio punakawan. Kegemaran itu serta-merta menarik saya pada dua hal sekaligus yaitu menggambar dan seni pewayangan. 

Kakek barangkali menjadi gerbang awal kertarikan saya pada bidang gambar. setelahnya semua hal yang berkaitan dengan itu seperti menyedot saya dengan sendirinya. Buku-buku bacaan untuk anak dan tayangan-tayangan anak  kala itu menjadi stimulan yang bergizi. Ragam ilustrasi berupa bentuk, rupa dan warna yang menarik menjadi referensi saya untuk berimajinasi. 

Memiliki referensi gambar yang cukup banyak rupanya bukan tanpa "tantangan" bagi bocah seusia saya kala itu. Hal tersebut terjadi sebab teman-teman saya tidak paham imajinasi saya. Pernah suatu ketika saya dan teman-teman menggambar bersama di suatu sore. Temanya sangatlah sederhana: pemandangan. Tentulah engkau bisa menebak jenis pemandangan legendaris apa yang akan digambar anak-anak. Ya! Gunung dengan sebuah matahari nyelip  di tengah, jalan yang terlalu lurus, sawah yang terbuat dari huruf "v" berbaris, dan sekumpulan burung-entah-apa yang terbuat dari angka "3" terjungkir (mengakulah bahwa engkau juga pernah melakukan "kekonyolan" visual ini). Saya tak ingat persis gambar yang saya buat. Namun, saya ingat betul bahwa saya menggambar sejumlah pohon berwarna merah muda. Sontak teman-teman saya protes setengah mengejek. "Kok pohon warnanya pink?". "Ini pohon Sakura." Timpal saya. Namun rupanya penjelasan yang saya kira ampuh itu tidaklah mengandung hikmah dan faedah. Barangkali mereka hanya belum membaca majalah Bobo yang pada edisi itu membahas negeri Sakura -jenis pohon dengan bunga-bunga berwarna merah muda.  

Menggambar bahkan menjadi kegemaran saya jauh sebelum saya bisa membaca dan menulis. Ah, ketahuilah bahwa saat balita saya membuat "Hieroglyph" di seluruh dinding rumah. Penuh. Saya terlampau penasaran dengan kegiatan bernama membaca dan menulis bahkan di usia belum pas untuk sekolah. Oleh sebab itu, saya mengangankan diri sudah bisa membaca dan menulis dengan membuat "sistem alfabet" sendiri di dinding candi, eh, maksud saya di dinding rumah. Dapat dikatakan bahwa saya punya buku gambar raksasa saat balita yaitu seluruh dinding rumah. Vandalisme itu sungguhlah lucu bagi orang tua saya. Itulah sebabnya mereka tidak memarahi saya saat "berkarya". Oh iya, bahkan saat saya masuk sekolah dan sudah terampil membaca-menulis, media tulis pertama saya pun masih berukuran fantastis. Saat di kelas bawah sekolah dasar, saya menulis  penuh sebuah cerpen di pintu masuk rumah!

Menggambar, kemudian menjadi senjata saat saya tidak bisa mengungkapkan sesuatu lewat lisan ataupun tulisan.  Sering saya menginginkan memiliki mainan tertentu namun tak bisa mengungkapkannya kepada orangtua saya sebab saya tahu harga mainan tersebut cukup tak ramah. Sebagai sesuatu yang tak bisa saya katakan, saya selalu menggambarnya di buku gambar. Dalam imajinasi saya, mainan yang saya gambar itu akan menjadi nyata saat saya tidur. Walaupun hal tersebut tidak lantas terjadi, saya selalu merasa puas. 




Menginjak remaja, menggambar saya sandingkan dengan kegemaran membaca dan menulis. Saya senang menulis cerita dengan beberapa gambar yang saya buat sendiri. Saya senang memenuhi satu buah buku tulis dengan aneka tulisan dan gambar-gambar.

Hingga sekarang, aktivitas itu tak pernah lepas dari diri saya. Menggambar (barangkali juga membaca dan menulis) sudah melekat dalam diri saya sejak kanak-kanak. Begitu dekatnya hingga saya pernah sedikit berkhayal bahwa dahulu saya terlahir sambil memegang pensil

***

Demikianlah, Kawan. Maaf jika sebenarnya kisah ini pun kurang tepat menjawab pertanyaanmu yang berulang itu. "Mengapa bisa menggambar?". Jawaban sederhananya mungkin karena saya menyukainya sejak kecil sampai sekarang. Lalu, tak pernah terpisah dengan kegiatan itu. Lalu, jika pertanyaanmu kembali memburuku, "mengapa suka gambar?" maka kujawab "sebab menggambar mengasyikkan dan penuh warna". Lalu jika kau lanjut bertanya "mengapa menggambar mengasyikkan?"... 
Ah, kuyakin kau tak se-kepo itu. 











#jurnal1
*this is my first post after a thousand year of hibernation :D. Nuhun Bung Irfan Ilmiyah dan rekan-rekan lain yang menginspirasi saya untuk kembali ke sini. 
Continue Reading...

24 Februari 2016

Surat untuk Nita Rostiani Maharani


Kau adalah orang pertama yang kukenal saat kita berdua menjadi perwakilan sekolah di porseni tingkat kabupaten, di sekolah menengah pertama. Saat itu kita menjadi penonton bagi teman-teman kita di kontingen basket lalu perbincangan loncat ke tayangan kesayangan kita, Slamdunk. Hal yang menyatukan kita adalah perbincangan mengenai tokoh Hanamichi Sakuragi dan Kaede Rukawa, bukan?  Selanjutnya, kita pun masih  sering bertemu di tiap perlombaan antar kelas. Kau selalu menjadi juara pertama lomba melukis dan aku selalu berada di posisi bontot. Sebenanrya, diam-diam aku selalu belajar padamu saat lomba. Aku memperhatikan caramu memberi warna, membuat garis, dan bentuk. Kau selalu memiliki cara teristimewa dalam memberi warna. Lalu kutahu juga bahwa kau tak pernah pelit memberi ilmu pada kawanmu.

Kita bertemu lagi di sekolah menengah atas. Dua tahun sekelas denganmu membuatku tahu cara tertawamu yang lepas dan lantang itu, juga keistimewaanmu di bidang seni rupa dan bahasa. Seni rupa? Ya, tentu, bakat seni turun dari ayahmu yang seorang pelukis itu. Lalu, karya terbesarmu saat SMA, kukira, adalah saat melukis wajah teman sekelas kita dengan riasan wajah seekor beruang saat teater. Sungguh, kau punya kemampuan khusus di bidang rias karakter walaupun kau sendiri bilang hasil dandananmu padanya membuat dia lebih mirip Mickey Mouse.

Empat tahun berlalu di perguruan tinggi membuatku tak sering berjumpa dan berbincang denganmu. Memang sempat,  saat kau memutuskan ngekos dan sama-sama les musik di RMHR saja barangkali. Namun setelah itu, saat kita sama-sama lulus, kukira semua benar-benar dimulai kembali. Aku selalu menamakan masa setelah aku lulus itu adalah sebuah titik balik. Banyak hal yang terjadi dan berubah dalam hidupku. Termasuk bertemu kembali denganmu di lembaga kursus bahasa Perancis. Saat itu, aku sangat menikmati peranku menjadi muridmu yang paling "oces" dan suka "cicirihilan" di kelas. Namun, sejak itu kita makin punya banyak cara membagi kebahagiaan dengan unik dan sederhana misalnya nonton Charlie Chaplin, curhat tentang Monsieur "X",  atau menggosipkan makhluk-makhluk gaib. Kita bahkan bisa menertawakan kesedihan masing-masing.

Lantas saat ini, apalagi yang mampu aku janjikan selain waktu pertemuan di kereta yang nyatanya juga tak pasti, Nita. Sebab sudah terlalu lama kita tak bertemu dan mengurai lagi banyak cerita sepanjang perjalanan menuju Cicalengka. Sungguh telah kukenal dirimu melebihi rekan satu gerbong dari Bandung menuju rumah. Bukan pula rekan yang selalu kutanya jadwal pergantian kereta. Sudah kita bagi harapan-harapan itu sepanjang pertemuan. Maka bertemu denganmu saat ini adalah juga mengingat harapan masing-masing tentang sejumlah cita-cita dan cinta. Aku selalu meyakini bahwa kau akan mampu melampaui pencapaianmu saat ini. Barangkali suatu hari nanti kau adalah ilustrator atau desainer handal di tanah air. Aku selalu meyakini itu sebab kulihat potensi itu memancar-mancar dari sudut matamu. Tentang cinta? Ah, kita pernah berbincang panjang di taman balai kota. Bukankah cinta tak datang dengan paksaan dan bukan pula sesuatu yang mudah dipermainkan. Sudah, abaikan makcomblang-makcomblang itu sekiranya mereka membuatmu jengah. Keep being the best and the best man will come to you!

Jika kita bertemu nanti, kita bisa sekali lagi menonton atau ngopi bersama. Aku akan meluangkan banyak ruang di memori laptopku untuk kau isi dengan film berkualitas pilihanmu. Tapi, kumohon jangan selundupkan film horror di sana. :)

24 Februari, 2016.
Continue Reading...

Unordered List